In this interview, one of the world's best-known biologists, Paul R Ehrlich, answers questions from Dr John Richard Schrock.
Ehrlich is Bing Professor of Population Studies and President of the Center for Conservation Biology at Stanford University. He received his PhD from the University of Kansas. As co-founder with Peter H Raven of the field of co-evolution, Ehrlich has pursued long-term studies of the structure, dynamics and genetics of natural butterfly populations.
He has also been a pioneer in alerting the public to the problems of overpopulation and in raising issues of population, resources and the environment as matters of public policy. A central focus of his group is investigating ways that human-disturbed landscapes can be made more hospitable to biodiversity.
The Ehrlich group's policy research on the population-resource-environment crisis takes a broad overview of the world situation but also works intensively in such areas of immediate legislative interests as endangered species and the preservation of genetic resources. A special interest of Ehrlich's is cultural evolution, especially with respect to environmental ethics.
More on the University World News site
Source: University World News, Issue No: 0105 13 Desember 2009
Tampilkan postingan dengan label KEPENDUDUKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEPENDUDUKAN. Tampilkan semua postingan
14 Desember 2009
14 Maret 2009
Satu Abad Transmigrasi Di Indonesia: Perjalanan Sejarah Pelaksanaan, 1905-2005
Nugraha Setiawan
Jurnal Historia, Vol.3, No.1, pp.13-35
Abstrak
Transmigrasi merupakan bentuk migrasi penduduk yang khas Indonesia. Selama satu abad pelaksanaannya (1905-2005), yang dimulai pada jaman pemerintahan kolonial Belanda dengan nama kolonisasi, hingga jaman reformasi saat ini, secara demografis belum bisa dikatakan berhasil. Selain tujuan demografis, pada setiap periode memiliki tujuan yang berbeda-beda, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Dalam tulisan ini dideskripsikan pelaksanaan transmigrasi pada periode pemerintahan kolonial Belanda yang terdiri atas masa percobaan, masa Lampongsche volksbank, dan masa depresi ekonomi dunia, kemudian pada jaman pendudukan tentara Jepang, serta jaman setelah kemerdekaan Indonesia yang terdiri atas masa orde lama, orde baru, dan masa reformasi.
Kata kunci: transimgrasi, Indonesia, 1905-2005
Tulisan lengkap: Download di Pustaka Unpad (pdf)
Jurnal Historia, Vol.3, No.1, pp.13-35
Abstrak
Transmigrasi merupakan bentuk migrasi penduduk yang khas Indonesia. Selama satu abad pelaksanaannya (1905-2005), yang dimulai pada jaman pemerintahan kolonial Belanda dengan nama kolonisasi, hingga jaman reformasi saat ini, secara demografis belum bisa dikatakan berhasil. Selain tujuan demografis, pada setiap periode memiliki tujuan yang berbeda-beda, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Dalam tulisan ini dideskripsikan pelaksanaan transmigrasi pada periode pemerintahan kolonial Belanda yang terdiri atas masa percobaan, masa Lampongsche volksbank, dan masa depresi ekonomi dunia, kemudian pada jaman pendudukan tentara Jepang, serta jaman setelah kemerdekaan Indonesia yang terdiri atas masa orde lama, orde baru, dan masa reformasi.
Kata kunci: transimgrasi, Indonesia, 1905-2005
Tulisan lengkap: Download di Pustaka Unpad (pdf)
01 September 2008
Labor Structure and Labor Force Participation Rate in Rural of Indonesia: Analyse of Sakernas (National Labor Force Survey) 2006.
Nugraha Setiawan
Jurnal Sosio Ekonomika, Vol.13, No.1, pp.31-39
Abstract
The study is aimed at analyzing labor structure in rural area, by carrying out study on working age population, labor force, and labor force participation rate. Secondary data analysis approach was used in this study. The data form Sakernas (National Labor Force Survey) 2006 was analyzed by a descriptive statistical analysis. The result of the study showed that proportion of working age population and labor force in rural area it was more younger and lower education than urban area. However, if we take look at rural labor force participation rate was more higher than urban area, in the all of age and education attainment groups.
Keywords: age, education, labor force, labor force participation rate, rural.
Abstrak
Tulisan ini bertujuan mengkaji struktur ketenagakerjaan di pedesaan yang dirinci atas aspek tenaga kerja, angkatan kerja, dan tingkat partisipasi angkatan kerja. Metode studi yang digunakan adalah model pendekatan analisis data sekunder, melalui pemahaman data ketenagakerjaan dengan memakai teknik analisis statistika deskriptif terhadap data dasar yang berasal dari hasil Survey Angkatan Kerja Nasional 2006. Hasil kajian menunjukkan, tenaga kerja dan angkatan kerja di pedesaan umumnya terdiri atas tenaga kerja muda dengan tingkat pendidikan yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan di perkotaan, namun demikian tingkat partisipasi angkatan kerja di pedesaan angkanya lebih tinggi jika dibandingkan dengan perkotaan pada semua kelompok umur dan tingkat pendidikan.
Kata Kunci: umur, pendidikan, angkatan kerja, tingkat partisipasi angkatan kerja, pedesaan.
Jurnal Sosio Ekonomika, Vol.13, No.1, pp.31-39
Abstract
The study is aimed at analyzing labor structure in rural area, by carrying out study on working age population, labor force, and labor force participation rate. Secondary data analysis approach was used in this study. The data form Sakernas (National Labor Force Survey) 2006 was analyzed by a descriptive statistical analysis. The result of the study showed that proportion of working age population and labor force in rural area it was more younger and lower education than urban area. However, if we take look at rural labor force participation rate was more higher than urban area, in the all of age and education attainment groups.
Keywords: age, education, labor force, labor force participation rate, rural.
Abstrak
Tulisan ini bertujuan mengkaji struktur ketenagakerjaan di pedesaan yang dirinci atas aspek tenaga kerja, angkatan kerja, dan tingkat partisipasi angkatan kerja. Metode studi yang digunakan adalah model pendekatan analisis data sekunder, melalui pemahaman data ketenagakerjaan dengan memakai teknik analisis statistika deskriptif terhadap data dasar yang berasal dari hasil Survey Angkatan Kerja Nasional 2006. Hasil kajian menunjukkan, tenaga kerja dan angkatan kerja di pedesaan umumnya terdiri atas tenaga kerja muda dengan tingkat pendidikan yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan di perkotaan, namun demikian tingkat partisipasi angkatan kerja di pedesaan angkanya lebih tinggi jika dibandingkan dengan perkotaan pada semua kelompok umur dan tingkat pendidikan.
Kata Kunci: umur, pendidikan, angkatan kerja, tingkat partisipasi angkatan kerja, pedesaan.
Struktur Umur Serta Tingkat Pendidikan Penganggur Baru dan Tingkat Pengangguran di Indonesia
Nugraha Setiawan
Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Padjadjaran
Penganggur baru di pedesaan proporsinya lebih sedikit dibandingkan dengan di perkotaan, walau perbedaannya tidak terlampau jomplang. Kondisi ini berbeda dengan penganggur ulangan yang pernah bekerja, dimana proporsi mereka yang berada di daerah pedesaan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan di perkotaan.
Jika dilihat dari struktur umur, penganggur baru lebih didominasi oleh mereka yang berumur muda, dibandingkan dengan penganggur yang pernah bekerja. Keadaan tersebut terlihat sama, baik di pedesaan maupun perkotaan. Sedangkan, jika ditinjau dari aspek tingkat pendidikan, penganggur baru memiliki kualifikasi yang lebih bagus dari para penganggur lama, baik di pedesaan maupun diperkotaan.
Berdasarkan perhitungan tingkat pengangguran, ternyata di wilayah pedesaan tingkat penganggurannya lebih rendah, dibandingkan dengan di perkotaan. Kemungkinan besar diakibatkan banyaknya migran pencari kerja dari pedesaan yang mencari kerja di kota. Dilihat dari struktur umur, tingkat pengangguran yang tinggi berada pada mereka yang berumur muda. Sedangkan dari sisi pendidikan, yang memiliki tingkat pengagguran tinggi adalah pada kelompok SLTP dan SLTA.
Rekomendasi yang bisa disampaikan terhadap kondisi tersebut antara lain: Penanganan masalah pengangguran baru perlu ditangani secara lebih spesifik, karena memiliki karakteristik yang berlainan dengan penganggur yang pernah bekerja. Misalnya mempertimbangkan, bahwa mereka masih belum memiliki pengalaman kerja dan pada umumnya masih muda tetapi lebih berpendidikan.
Supaya tidak menambah beban kota, dengan banyaknya migran pencari kerja yang datang ke perkotaan, perlu dilakukan upaya pengembangan lapangan kerja di pedesaan, antara lain melalui pembangunan agroindustri berskala kecil yang banyak menyerap pekerja. Dengan demikian para penganggur baru tidak mengalir ke perkotaan, dan juga menarik penganggur lain yang berada di kota untuk mau bekerja di pedesaan.
Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Padjadjaran
Penganggur baru di pedesaan proporsinya lebih sedikit dibandingkan dengan di perkotaan, walau perbedaannya tidak terlampau jomplang. Kondisi ini berbeda dengan penganggur ulangan yang pernah bekerja, dimana proporsi mereka yang berada di daerah pedesaan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan di perkotaan.
Jika dilihat dari struktur umur, penganggur baru lebih didominasi oleh mereka yang berumur muda, dibandingkan dengan penganggur yang pernah bekerja. Keadaan tersebut terlihat sama, baik di pedesaan maupun perkotaan. Sedangkan, jika ditinjau dari aspek tingkat pendidikan, penganggur baru memiliki kualifikasi yang lebih bagus dari para penganggur lama, baik di pedesaan maupun diperkotaan.
Berdasarkan perhitungan tingkat pengangguran, ternyata di wilayah pedesaan tingkat penganggurannya lebih rendah, dibandingkan dengan di perkotaan. Kemungkinan besar diakibatkan banyaknya migran pencari kerja dari pedesaan yang mencari kerja di kota. Dilihat dari struktur umur, tingkat pengangguran yang tinggi berada pada mereka yang berumur muda. Sedangkan dari sisi pendidikan, yang memiliki tingkat pengagguran tinggi adalah pada kelompok SLTP dan SLTA.
Rekomendasi yang bisa disampaikan terhadap kondisi tersebut antara lain: Penanganan masalah pengangguran baru perlu ditangani secara lebih spesifik, karena memiliki karakteristik yang berlainan dengan penganggur yang pernah bekerja. Misalnya mempertimbangkan, bahwa mereka masih belum memiliki pengalaman kerja dan pada umumnya masih muda tetapi lebih berpendidikan.
Supaya tidak menambah beban kota, dengan banyaknya migran pencari kerja yang datang ke perkotaan, perlu dilakukan upaya pengembangan lapangan kerja di pedesaan, antara lain melalui pembangunan agroindustri berskala kecil yang banyak menyerap pekerja. Dengan demikian para penganggur baru tidak mengalir ke perkotaan, dan juga menarik penganggur lain yang berada di kota untuk mau bekerja di pedesaan.
11 Mei 2008
Perubahan Konsep Perkotaan di Indonesia dan Implikasinya Terhadap Analisis Urbanisasi
Nugraha Setiawan
Jurnal Kependudukan, Vol.8, No.1, pp.1-10
Abstract
The difference and change of urban concept usually make the analyzed of urbanization more difficult. In spatial analyze, the difficult will find if has used a different urban concept with the other region in the same year, and also in a different time. Since population census 1961 until 2000, urban concept in Indonesia has changed four times, the same concept just used on 1980 and 1990. That changed had no implication to spatial analyzed, because the applied of that concept had to take place on the nation. But, it is very implicated to time series analyzed, because reclassification of region witch caused by a changed of urban concept.
Key words: urban concept, analyze of urbanization, Indonesia.
Abstrak
Perbedaan dan perubahan konsep perkotaan, baik secara spasial maupun antar waktu sering menyulitkan dalam analisis urbanisasi. Kesulitan secara spasial terjadi jika pada tahun yang sama satu wilayah menggunakan konsep perkotaan yang berbeda dengan wilayah lainnya. Demikian pula jika satu wilayah menggunakan konsep perkotaan yang tidak sama pada waktu yang berbeda. Konsep perkotaan di Indonesia sejak sensus penduduk 1961-2000 telah berubah sebanyak empat kali, konsep yang sama hanya digunakan pada tahun 1980 dan 1990. Adanya perubahan tersebut tidak berimplikasi terhadap analisis urbanisasi secara spasial, sebab penerapan konsepnya berlaku secara nasional. Namun demikian, sangat berimplikasi terhadap analisis urbanisasi yang dilakukan antar waktu, sebagai dampak besarnya pengaruh reklasifikasi wilayah yang disebabkan oleh perubahan konsep perkotaan.
Kata kunci: konsep perkotaan, analisis urbanisasi, Indonesia.
Tulisan lengkap: Download di Pustaka Unpad (pdf)
Jurnal Kependudukan, Vol.8, No.1, pp.1-10
Abstract
The difference and change of urban concept usually make the analyzed of urbanization more difficult. In spatial analyze, the difficult will find if has used a different urban concept with the other region in the same year, and also in a different time. Since population census 1961 until 2000, urban concept in Indonesia has changed four times, the same concept just used on 1980 and 1990. That changed had no implication to spatial analyzed, because the applied of that concept had to take place on the nation. But, it is very implicated to time series analyzed, because reclassification of region witch caused by a changed of urban concept.
Key words: urban concept, analyze of urbanization, Indonesia.
Abstrak
Perbedaan dan perubahan konsep perkotaan, baik secara spasial maupun antar waktu sering menyulitkan dalam analisis urbanisasi. Kesulitan secara spasial terjadi jika pada tahun yang sama satu wilayah menggunakan konsep perkotaan yang berbeda dengan wilayah lainnya. Demikian pula jika satu wilayah menggunakan konsep perkotaan yang tidak sama pada waktu yang berbeda. Konsep perkotaan di Indonesia sejak sensus penduduk 1961-2000 telah berubah sebanyak empat kali, konsep yang sama hanya digunakan pada tahun 1980 dan 1990. Adanya perubahan tersebut tidak berimplikasi terhadap analisis urbanisasi secara spasial, sebab penerapan konsepnya berlaku secara nasional. Namun demikian, sangat berimplikasi terhadap analisis urbanisasi yang dilakukan antar waktu, sebagai dampak besarnya pengaruh reklasifikasi wilayah yang disebabkan oleh perubahan konsep perkotaan.
Kata kunci: konsep perkotaan, analisis urbanisasi, Indonesia.
Tulisan lengkap: Download di Pustaka Unpad (pdf)
Langganan:
Komentar (Atom)