24 September 2008

Kalender Akademik Fakultas Peternakan Unpad Semester Ganjil 2008/2009

1. Herregsitrasi Mahasiswa : 19 Agust - 27 Agust 2008
2. Penerimaan Mahasiswa Baru di Fak : 19 Agust - 24 Agust 2008
3. Batas Akhir Pengajuan Cuti Akademik : 19 Sep 2008
4. Bimbingan Akademik (Perwalian) : 19 Agust - 25 Agust 2008
5. Masa Perkuliahan : 01 Sep - 19 Des 2008
6. Dies Natalis : 11 Sep 2008
7. Batas Akhir Perubahan KRS : 19 Sep 2008
8. Wisuda ke-4 : 26 Agust - 29 Agust 2008
9. Libur Idul Fitri : 29 Sep - 05 Okt 2008
10. U T S : 27 Okt - 07 Nop 2008
11. Wisuda ke-1 : 25 Nop - 27 Nop 2008
12. Minggu Tenang : 22 Des - 02 Jan 2009
13. U A S : 05 Jan - 16 Jan 2009
14. Pengumuman Hasil Ujian : 19 Jan - 30 Jan 2009
15. Self Assesment : 25 Feb 2009

Sumber: http://www.unpad.ac.id/

05 September 2008

Kuliah 1, 01/09/2008: Komunikasi Pembangunan

Perkuliahan Komunikasi Pembangunan semester ganjil tahun ajaran 2008/2009, dimulai pada hari Senin 1 September 2008.
Kuliah pertama dilakukan bersama-sama yang diikuti oleh semua dosen dan mahasiswa dari seluruh kelas paralel (A, B, C, D, E).

Khusus kegiatan perkuliahan Kelas D, selanjutnya akan dilaksanakan pada:Hari Senin, pukul 08.00-09.40, tempat R4 L3 G3, Dosen Nugraha Setiawan, Peserta Angkatan 2007 mulai no. NPM: 0151-0200

Rencana Perkuliahan:
01/09/2008 : Pengantar Perkuliahan
08/09/2008 : Latar Belakang, Teminologi, dan Falsafah Komunikasi
15/09/2008 : Rumusan Pembangunan
22/09/2008 : Fungsi dan Prinsip Komunikasi
13/10/2008 : Model dan Fidelity Komunikasi
20/10/2008 : UTS
27/10/2008 : Teori dan Konsep Komunikasi Pembangunan
03/11/2008 : Sistem Sosial, Matrik Komunikasi, dan Perubahan Sosial
10/11/2008 : Perubahan pada Tk. Individu dan Laju Adopsi
17/11/2008 : Difusi Inovasi, Kategori Adopter, dan Agen Pembaharu
24/11/2008 : Keputusan Kolektif dan Kekuasaan, Dampak Inovasi
01/12/2008 : Pedekatan dan Model Komunikasi Pembangunan
15/12/2008 : Diskusi
22/12/2008 : Diskusi

01 September 2008

Labor Structure and Labor Force Participation Rate in Rural of Indonesia: Analyse of Sakernas (National Labor Force Survey) 2006.

Nugraha Setiawan
Jurnal Sosio Ekonomika, Vol.13, No.1, pp.31-39

Abstract
The study is aimed at analyzing labor structure in rural area, by carrying out study on working age population, labor force, and labor force participation rate. Secondary data analysis approach was used in this study. The data form Sakernas (National Labor Force Survey) 2006 was analyzed by a descriptive statistical analysis. The result of the study showed that proportion of working age population and labor force in rural area it was more younger and lower education than urban area. However, if we take look at rural labor force participation rate was more higher than urban area, in the all of age and education attainment groups.
Keywords: age, education, labor force, labor force participation rate, rural.

Abstrak
Tulisan ini bertujuan mengkaji struktur ketenagakerjaan di pedesaan yang dirinci atas aspek tenaga kerja, angkatan kerja, dan tingkat partisipasi angkatan kerja. Metode studi yang digunakan adalah model pendekatan analisis data sekunder, melalui pemahaman data ketenagakerjaan dengan memakai teknik analisis statistika deskriptif terhadap data dasar yang berasal dari hasil Survey Angkatan Kerja Nasional 2006. Hasil kajian menunjukkan, tenaga kerja dan angkatan kerja di pedesaan umumnya terdiri atas tenaga kerja muda dengan tingkat pendidikan yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan di perkotaan, namun demikian tingkat partisipasi angkatan kerja di pedesaan angkanya lebih tinggi jika dibandingkan dengan perkotaan pada semua kelompok umur dan tingkat pendidikan.
Kata Kunci: umur, pendidikan, angkatan kerja, tingkat partisipasi angkatan kerja, pedesaan.

Struktur Umur Serta Tingkat Pendidikan Penganggur Baru dan Tingkat Pengangguran di Indonesia

Nugraha Setiawan
Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Padjadjaran

Penganggur baru di pedesaan proporsinya lebih sedikit dibandingkan dengan di perkotaan, walau perbedaannya tidak terlampau jomplang. Kondisi ini berbeda dengan penganggur ulangan yang pernah bekerja, dimana proporsi mereka yang berada di daerah pedesaan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan di perkotaan.
Jika dilihat dari struktur umur, penganggur baru lebih didominasi oleh mereka yang berumur muda, dibandingkan dengan penganggur yang pernah bekerja. Keadaan tersebut terlihat sama, baik di pedesaan maupun perkotaan. Sedangkan, jika ditinjau dari aspek tingkat pendidikan, penganggur baru memiliki kualifikasi yang lebih bagus dari para penganggur lama, baik di pedesaan maupun diperkotaan.
Berdasarkan perhitungan tingkat pengangguran, ternyata di wilayah pedesaan tingkat penganggurannya lebih rendah, dibandingkan dengan di perkotaan. Kemungkinan besar diakibatkan banyaknya migran pencari kerja dari pedesaan yang mencari kerja di kota. Dilihat dari struktur umur, tingkat pengangguran yang tinggi berada pada mereka yang berumur muda. Sedangkan dari sisi pendidikan, yang memiliki tingkat pengagguran tinggi adalah pada kelompok SLTP dan SLTA.
Rekomendasi yang bisa disampaikan terhadap kondisi tersebut antara lain: Penanganan masalah pengangguran baru perlu ditangani secara lebih spesifik, karena memiliki karakteristik yang berlainan dengan penganggur yang pernah bekerja. Misalnya mempertimbangkan, bahwa mereka masih belum memiliki pengalaman kerja dan pada umumnya masih muda tetapi lebih berpendidikan.
Supaya tidak menambah beban kota, dengan banyaknya migran pencari kerja yang datang ke perkotaan, perlu dilakukan upaya pengembangan lapangan kerja di pedesaan, antara lain melalui pembangunan agroindustri berskala kecil yang banyak menyerap pekerja. Dengan demikian para penganggur baru tidak mengalir ke perkotaan, dan juga menarik penganggur lain yang berada di kota untuk mau bekerja di pedesaan.

The Trend of Animal Protein Consumption in Indonesia: Data Analysis of 2002-2005 National Socio Economic Survey

Nugraha Setiawan
Jurnal Ilmu Ternak, Vol.6, No.1, pp.68-74

Abstract
The study is aimed at analyzing trend of animal protein consumption in Indonesia from 2002 to 2006, by carrying out indepth study on animal protein source. Secondary data analysis approach was used in this study. The data was analyzed by a descriptive statistical analysis. The result of the study showed there is a tendency of increasing on protein consumption in Indonesia. However if we take look at its source, animal protein consumption still has not been provided enough yet. Most of consumed animal protein was from fishery product, even though there was an increasing tendency of protein concumption from livestock product. Initially, the source of consumed protein was from milk and egg but then its turned to meet.
Keywords: consumption, animal protein.

Abstrak
Tulisan ini bertujuan mengkaji perkembangan konsumsi protein hewani di Indonesia antara tahun 2002-2005, dengan melakukan pendalaman pada sumber protein asal ternak. Metode studi memakai pendekatan penelaahan data sekunder, dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Hasil pengkajian menunjukkan, telah terjadi peningkatan konsumsi protein. Namun jika dilihat dari sumbernya, konsumsi protein hewani masih kurang memadai. Sebagian besar protein hewani yang dikonsumsi berasal dari produk perikanan, walaupun ada kecenderungan konsumsi protein yang berasal dari produk peternakan semakin meningkat. Pada awalnya, yang lebih banyak dikonsumsi adalah protein yang berasal dari telur dan susu, tetapi kemudian berubah menjadi lebih banyak bersumber dari daging.
Kata Kunci: konsumsi, protein hewani.

31 Agustus 2008

Daging dan Telur Ayam Sumber Protein Murah

Nugraha Setiawan
Poultry Indonesia, edisi Juli 2006

Dibandingkan dengan bahan makanan sumber karbohidrat, biaya yang harus dikeluarkan untuk bahan makanan sumber protein relatif lebih mahal. Akan tetapi bahan makanan sumber protein harus tersedia dalam menu makanan sehari-hari, agar tubuh kita memperoleh asupan gizi yang seimbang. Kecukupan konsumsi protein akan menjadi masalah, manakala banyak keluarga dengan tingkat perekonomian yang terbatas tidak mampu menyediakan protein yang optimal dalam menu makanan sehari-hari bagi keluarganya.
Kecukupan konsumsi protein, tidak hanya terkait dengan masalah kesehatan. Banyak literatur menyatakan konsumsi protein sangat berkaitan dengan tingkat intelegensia. Artinya, untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas, salah satu hal yang harus menjadi perhatian yaitu memenuhi kebutuhan akan protein.

Protein Berkualitas
Dilihat dari sumbernya, ada dua macam protein yang biasa dikonsumsi manusia. Pertama, protein nabati yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Kedua, protein hewani yang berasal dari hewan ternak dan hasil perikanan. Dari sudut pandang gizi dan ekonomi, kedua macam protein tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Protein nabati harganya relatif murah, namun asam amino esensial yang dikandungnya kurang lengkap. Sementara protein hewani walaupun relatif mahal, kandungan asam amino esensialnya lebih lengkap. Dengan demikian, jika dilihat dari kualitasnya, protein hewani bisa disebut lebih bermutu dibandingkan dengan protein nabati, tetapi harganya mahal. Sedangkan protein nabati harganya murah, tetapi kualitasnya tidak sebaik protein hewani.
Asam amino esensial adalah substansi protein yang diperlukan oleh tubuh manusia, tetapi tubuh tidak dapat mensintesa sendiri, sehingga harus dikonsumsi dari luar dalam bentuk makanan. Mengingat hal tersebut, maka penyediaan protein nabati dan hewani perlu dikombinasikan, agar tubuh memperoleh asupan protein berkualitas tetapi biaya yang dikeluarkan untuk membeli makanan tidak terlampau besar.

Berkualitas tapi Murah
Perkiraan kasar kebutuhan manusia akan protein sekitar satu gram per kg berat badan per hari. Seseorang yang memiliki berat badan 60 kg, perlu mengkonsumsi protein 60 gram per hari. Sediaoetama (2000) dalam bukunya “Ilmu Gizi” mengemukakan, dari total kebutuhan protein, sekitar 20-40% atau kalau dirata-ratakan sekitar 30% disarankan untuk disuplay dari sumber protein hewani, antara lain daging, telur, dan susu, agar asam amino esensialnya menjadi lengkap.
Sebuah keluarga yang terdiri atas ayah (70 kg), ibu (50 kg), anak ke-1 (50 kg), dan anak ke-2 (30 kg), berat badan total keluarga tersebut adalah 210 kg. Berarti kebutuhan protein keluarga tersebut adalah 210 gram per hari, yang terdiri atas 140 gram protein nabati + 70 gram protein hewani. Jika kebutuhan protein hewani hanya akan dicukupi oleh daging sapi yang memiliki kandungan protein sekitar 19,8%, artinya agar keluarga tersebut tercukupi kebutuhan protein hewaninya diperlukan daging sapi seberat 3,5 ons. Kalau harga daging sapi Rp 45.000,-/kg, maka uang yang harus dikeluarkan untuk memenuhi asupan sumber protein hewani setara dengan Rp. 15.750,-/hari.
Untuk mengetahui sumber protein hewani yang murah, diperlukan informasi mengenai kandungan protein dari tiap jenis bahan pangan hewani, serta harganya setiap satuan berat atau volume. Daging sapi meskipun memiliki kandungan protein yang lebih tinggi, namun harganya jauh di atas daging ayam dan telur, sehingga harga persatuan berat protein jatuhnya tetap menjadi mahal. Susu murni, yang memiliki harga persatuan volume/berat paling murah jika dibandingkan dengan daging dan telur, karena kandungan proteinnya sedikit, maka harga protein persatuan beratnya juga relatif mahal dibandingkan daging ayam dan telur.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh penulis, ternyata harga per satuan berat protein yang berasal dari daging dan telur ayam, adalah yang paling murah jika dibandingkan dengan protein hewani yang berasal dari bahan makanan asal ternak lainnya. Harga protein daging ayam hanya Rp 71,-/gram, bahkan protein telur ayam jatuhnya hanya Rp 63,-/gram. Sementara harga protein susu sapi murni adalah Rp 156,-/ gram, dan harga protein daging sapi adalah yang termahal Rp 220,-/gram.
Dalam keadaan perekonomian keluarga yang terbatas, sementara agar sehat perlu tetap mengkonsumsi protein hewani, daging dan telur ayam menjadi prioritas pilihan yang paling layak sebagai sumber protein hewani bagi keluarga. Hanya saja perlu dipertimbangkan variasi masakan yang dibuat dari daging dan telur ayam, agar tetap memenuhi selera untuk dikonsumsi dalam menu sehari-hari tanpa rasa bosan.

Keberdayaan Masyarakat Peternak dalam Perspektif Sosiologi Berparadigma Fakta Sosial

Nugraha Setiawan
Jurnal Sosiohumaniora, Vol.10, No.1, pp.58-67

Abstract.
The study is aimed at understanding of peasant community power phenomena in rural of Indonesia. The anlyzing used sosiological approach with “social facts” paradigm, what argued that its were external to, and coercive over, individuals, and then analyzed by the force relations phenomena of power theory of Foucault. The result of the study showed, peasant still has been powerless, because the dominating of urban community and institution of rural outsider. The conditions made peasant powerless more and more..
Keywords: power, peasant, rural, social fact.

Abstrak.
Tulisan ini bertujuan untuk memahami fenomena keberdayaan masyarakat peternak di wilayah pedesaan Indonesia melalui pendekatan sosiologis. Analisis dilakukan dengan memakai paradigma “fakta sosial” yang memandang masyarakat sebagai kenyataan atau fakta yang berdiri sendiri terpisah dari individu, namun mempengaruhi individu tersebut, kemudian dikaji lebih jauh melalui pemahaman mengenai force relations dengan memakai teori kekuasaan Foucault. Hasil studi menunjukkan, telah sejak lama bahkan hingga saat ini, masyarakat peternak di pedesaan masih menjadi objek dan sasaran kekuasaan dari masyarakat kota maupun pranata-pranata dari luar wilayah pedesaan. Keadaan tersebut menyebabkan mereka makin terkungkung dalam kondisi tidak berdaya dalam kehidupan sosial-ekonominya.
Kata Kunci: keberdayaan, peternak, pedesaan, fakta sosial.