The Association of International Educators, or NAFSA, has called on the American Congress to change existing laws and increase opportunities for foreign graduates to obtain permanent residency. The association said the changes should include removal or adjustment of unrealistic caps on temporary and permanent employment-based visa categories, including green cards.
Full report on the University World News site
Source: Universiry World News, Issue No: 0071 12 April 2009
12 April 2009
06 April 2009
Kuliah ke-9 Sosiologi, 7 April 2009
Materi kuliah yang dibahas pada hari ini adalah tentang Kekuasaan dan Wewenang. Mahasiswa yang tidak hadir di kelas ada 4 orang, yaitu NPM 152, 160, 1002('05), dan 0123 ('05). Setelah minggu yang lalu diadakan UTS dengan hasil nilai yang pada umumnya kurang begitu memuaskan, walaupun ada beberapa orang yang memperoleh nilai bagus, mudah-mudahan menjadikan perhatian agar mahasiswa semakin tekun belajar. Di sisi lain juga merupakan bahan introspeksi bagi pengajar agar dapat menyampaikan materi dengan lebih baik dan lebih mudah dipahami oleh mahasiswa. Dengan demikian proses belajar-mengajar dapat berjalan lebih efektif lagi.
Download Materi Kuliah: Kekuasaan dan Wewenang (pdf)
Download Materi Kuliah: Kekuasaan dan Wewenang (pdf)
New Masters in Social Networking
Britain’s Birmingham City University is to offer a masters degree teaching students about social networking sites like Facebook, Twitter and Bebo, reports The Telegraph. The one-year masters in social media will also explain how to set up blogs and publish podcasts.
The £4,400 course, which will start next year, will consider social networking sites as communications and marketing tools. It was advertised through a makeshift video on the university's website.
More on the University World News site
Source: University World News, Issue No: 0070 05 April 2009
The £4,400 course, which will start next year, will consider social networking sites as communications and marketing tools. It was advertised through a makeshift video on the university's website.
More on the University World News site
Source: University World News, Issue No: 0070 05 April 2009
03 April 2009
Golput: Halal atau Haram?
Muhammad Yajid Kalam
Fenomena golput terus meningkat. Kondisi ini tampaknya mulai mengkhawatirkan banyak pihak, terutama para elite politik. Tingginya angka golput melemahkan legitimasi kekuasaan yang diperoleh para elite kekuasaan politik. Fenomena ini membawa sebagian elite politik menarik sisi agama untuk berbicara tentang golput.
Menurut Konstitusi
Dalam konstitusi Indonesia, memilih dan dipilih adalah hak bukan kewajiban. Berbeda dengan konstitusi Amerika yang menempatkan memilih sebagai hak dan kewajiban. Bila memilih dan dipilih adalah hak, siapa pun bebas untuk mempergunakan ataupun melepaskan haknya tersebut. Warga negara Indonesia dijamin oleh konstitusi kebebasannya untuk mempergunakan ataupun melepaskan hak memilih itu. Bila orang memilih golput artinya ia melepaskan haknya. Melepaskan hak bukanlah kejahatan. Siapa pun yang golput dilindungi konstitusi Indonesia.
Menurut Syariat Islam
Memilih dan dipilih dalam masalah ini berkaitan dengan kepemimpinan. Islam
mengharuskan umatnya mengangkat pemimpin. Pengangkatan pemimpin adalah kewajiban (fardu) menurut syariat. Dengan demikian, bila umat Islam tidak mengangkat
pemimpin artinya mereka melanggar syariat. Namun, mengangkat pemimpin adalah fardu kifayah bukan fardu ain. Mengangkat pemimpin adalah kewajiban yang dikenakan kepada seluruh anggota komunitas masyarakat, namun cukup dilakukan sebagiannya saja. Dengan demikian, tidak memilih atau golput yang dilakukan sebagian masyarakat Indonesia tidak menjadi dosa selama ada anggota masyarakat yang lain yang melaksanakan kewajiban memilih.
Politisasi Halal-Haram
Urusan golput tidak lepas dari urusan politik. Semakin tinggi golput semakin rendah legitimasi elite politik pemegang kekuasaan hasil pemilihan. Dengan demikian, menurunkan tingkat golput adalah kepentingan politik. Bila dikaitkan dengan permintaan fatwa haram atas golput, hal ini sebenarnya merupakan politisasi agama, membuat agama sebagai alat politik. Dengan demikian, masalah sebenarnya bukan halal dan haram, namun perilaku elite politik. Bila golput disikapi elite politik dengan meminta fatwa haram, elite politik sedang berusaha menutupi masalah sebenarnya. Mereka tidak mau menyadari dan tidak mengakui kesalahannya yang membuat masyarakat kesal dan tidak memercayai mereka lagi.
Lebih lengkap baca: Pikiran Rakyat Online, 3 April 2009
Fenomena golput terus meningkat. Kondisi ini tampaknya mulai mengkhawatirkan banyak pihak, terutama para elite politik. Tingginya angka golput melemahkan legitimasi kekuasaan yang diperoleh para elite kekuasaan politik. Fenomena ini membawa sebagian elite politik menarik sisi agama untuk berbicara tentang golput.
Menurut Konstitusi
Dalam konstitusi Indonesia, memilih dan dipilih adalah hak bukan kewajiban. Berbeda dengan konstitusi Amerika yang menempatkan memilih sebagai hak dan kewajiban. Bila memilih dan dipilih adalah hak, siapa pun bebas untuk mempergunakan ataupun melepaskan haknya tersebut. Warga negara Indonesia dijamin oleh konstitusi kebebasannya untuk mempergunakan ataupun melepaskan hak memilih itu. Bila orang memilih golput artinya ia melepaskan haknya. Melepaskan hak bukanlah kejahatan. Siapa pun yang golput dilindungi konstitusi Indonesia.
Menurut Syariat Islam
Memilih dan dipilih dalam masalah ini berkaitan dengan kepemimpinan. Islam
mengharuskan umatnya mengangkat pemimpin. Pengangkatan pemimpin adalah kewajiban (fardu) menurut syariat. Dengan demikian, bila umat Islam tidak mengangkat
pemimpin artinya mereka melanggar syariat. Namun, mengangkat pemimpin adalah fardu kifayah bukan fardu ain. Mengangkat pemimpin adalah kewajiban yang dikenakan kepada seluruh anggota komunitas masyarakat, namun cukup dilakukan sebagiannya saja. Dengan demikian, tidak memilih atau golput yang dilakukan sebagian masyarakat Indonesia tidak menjadi dosa selama ada anggota masyarakat yang lain yang melaksanakan kewajiban memilih.
Politisasi Halal-Haram
Urusan golput tidak lepas dari urusan politik. Semakin tinggi golput semakin rendah legitimasi elite politik pemegang kekuasaan hasil pemilihan. Dengan demikian, menurunkan tingkat golput adalah kepentingan politik. Bila dikaitkan dengan permintaan fatwa haram atas golput, hal ini sebenarnya merupakan politisasi agama, membuat agama sebagai alat politik. Dengan demikian, masalah sebenarnya bukan halal dan haram, namun perilaku elite politik. Bila golput disikapi elite politik dengan meminta fatwa haram, elite politik sedang berusaha menutupi masalah sebenarnya. Mereka tidak mau menyadari dan tidak mengakui kesalahannya yang membuat masyarakat kesal dan tidak memercayai mereka lagi.
Lebih lengkap baca: Pikiran Rakyat Online, 3 April 2009
02 April 2009
Bahan Kuliah Metode Penelitian Sosial 2009, Fapet Unpad
Bahan kuliah Metode Penelitian Sosial di Fakultas Peternakan, yang menyangkut topik sampling dan analisis data, serta bahan-bahan bacaan untuk pengayaan materi kuliah tersebut, dapat didownload di bawah ini:
Download Materi Kuliah (Pustaka Nugraha):
Pengertian dan Konsep Dasar dalam Metode Penelitian (pdf)
Teknik Sampling dan Penentuan Ukuran Sampel (pdf)
Skala dan Teknik Pengukuran (pdf)
Pengolahan dan Analisis Data (pdf)
Download Materi Pengayaan (Pustaka Unpad):
Teknik Sampling (pdf)
Penentuan Ukuran Sampel dengan Rumus Slovin dan Tabel Krejcie-Morgan: Telaah Konsep dan Aplikasinya (pdf)
Pengolahan dan Analisis Data (pdf)
Korelasi Rank Spearman: Signifikansi dan Penafsiran (pdf)
Link ke Tulisan Terkait:
Kalkulator untuk Menghitung Ukuran Sampel
Rumus Ukuran Sampel: Slovin vs Yamane
Interpretasi Nilai Koefien Korelasi Menurut Guilford (1956)
Download Materi Kuliah (Pustaka Nugraha):
Pengertian dan Konsep Dasar dalam Metode Penelitian (pdf)
Teknik Sampling dan Penentuan Ukuran Sampel (pdf)
Skala dan Teknik Pengukuran (pdf)
Pengolahan dan Analisis Data (pdf)
Download Materi Pengayaan (Pustaka Unpad):
Teknik Sampling (pdf)
Penentuan Ukuran Sampel dengan Rumus Slovin dan Tabel Krejcie-Morgan: Telaah Konsep dan Aplikasinya (pdf)
Pengolahan dan Analisis Data (pdf)
Korelasi Rank Spearman: Signifikansi dan Penafsiran (pdf)
Link ke Tulisan Terkait:
Kalkulator untuk Menghitung Ukuran Sampel
Rumus Ukuran Sampel: Slovin vs Yamane
Interpretasi Nilai Koefien Korelasi Menurut Guilford (1956)
01 April 2009
Kuliah ke-8 UTS Sosiologi, 31 Maret 2009
UTS Sosiologi diikuti oleh 44 orang mahasiswa (semua hadir), namun 1 orang ujiannya dianulir karena berbuat curang selama berlangsungnya ujian. Soal UTS dibuat sebanyak 6 soal masing-masing terdiri atas satu pokok bahasan yang telah dipelajari.
Setelah dilakukan penilaian, hasil UTS terbesar dicapai oleh sdr. Kurniawan (200110080127) dengan nilai 88. Nilai UTS selengkapnya, silakan download: Nilai UTS Sosiologi 2009 Kls. D (doc)
Masih ada 3 kali pertemuan tatap muka setelah UTS, yang dilanjutkan dengan diskusi kelompok mulai tanggal 28 April 2009.
Kelas dibagi menjadi 7 kelompok, dengan topik bahasan berurut mulai dari Kelompok 1 adalah: (1) Masyarakat dan Kebudayaan, (2) Interaksi Sosial, (3) Kelompok Sosial, (4) Pranata Sosial, (5) Startifikasi Sosial, (6) Kekuasaan dan Wewenang, serta (7) Perubahan Sosial.
Pembagian kelompok yang dirinci berdasarkan anggota dan topik bahasannya, download: Kelompok Diskusi Sosiologi 2009 Kls. D (doc)
Setelah dilakukan penilaian, hasil UTS terbesar dicapai oleh sdr. Kurniawan (200110080127) dengan nilai 88. Nilai UTS selengkapnya, silakan download: Nilai UTS Sosiologi 2009 Kls. D (doc)
Masih ada 3 kali pertemuan tatap muka setelah UTS, yang dilanjutkan dengan diskusi kelompok mulai tanggal 28 April 2009.
Kelas dibagi menjadi 7 kelompok, dengan topik bahasan berurut mulai dari Kelompok 1 adalah: (1) Masyarakat dan Kebudayaan, (2) Interaksi Sosial, (3) Kelompok Sosial, (4) Pranata Sosial, (5) Startifikasi Sosial, (6) Kekuasaan dan Wewenang, serta (7) Perubahan Sosial.
Pembagian kelompok yang dirinci berdasarkan anggota dan topik bahasannya, download: Kelompok Diskusi Sosiologi 2009 Kls. D (doc)
Columbia Opens Global Centres
John Richard Schrock
Beijing in China and Amman in Jordan are the sites of the first two Columbia Global Centers, a markedly different departure from the standard branch campuses built by many universities around the world to promote exchanges and attract foreign students. Columbia University President Lee C Bollinger opened the Beijing centre last Friday week while the Middle East Research Center in Amman opened two days later.
The private, 250-year-old New York-based Columbia University is one of America's elite Ivy League institutions and is one of only two in the US to have been founded by Royal Charter under King George II.
Kenneth Prewitt, Vice-president of Columbia Global Centers and Carnegie Professor of Public Affairs, describes the creation of the global centres as the "next stage in the long evolution of international study".
This is not taking the Columbia campus abroad, he explains, nor is it an attempt to establish Columbia's presence internationally. The university, top ranked for research and its teaching college, has a long history of involvement in international studies as well as of international students on its campus.
More on the University World News site
Source: University World News, Issue No: 0069 29 March 2009
Beijing in China and Amman in Jordan are the sites of the first two Columbia Global Centers, a markedly different departure from the standard branch campuses built by many universities around the world to promote exchanges and attract foreign students. Columbia University President Lee C Bollinger opened the Beijing centre last Friday week while the Middle East Research Center in Amman opened two days later.
The private, 250-year-old New York-based Columbia University is one of America's elite Ivy League institutions and is one of only two in the US to have been founded by Royal Charter under King George II.
Kenneth Prewitt, Vice-president of Columbia Global Centers and Carnegie Professor of Public Affairs, describes the creation of the global centres as the "next stage in the long evolution of international study".
This is not taking the Columbia campus abroad, he explains, nor is it an attempt to establish Columbia's presence internationally. The university, top ranked for research and its teaching college, has a long history of involvement in international studies as well as of international students on its campus.
More on the University World News site
Source: University World News, Issue No: 0069 29 March 2009
Langganan:
Komentar (Atom)